PAMEKASAN – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi penopang kesehatan generasi muda justru menuai polemik. Badan Nasional Penanggulangan Malnutrisi (BNPM) Cabang Pamekasan melayangkan protes keras menyusul temuan makanan tidak layak konsumsi berupa ulat di dalam menu yang disajikan bagi siswa Sekolah Penggerak Pembangunan Generasi (SPPG) Banyupuluh, Rabu (6/5/2026).
Kelalaian Fatal yang Mencederai Kepercayaan
Ketua DPC BNPM Pamekasan, Moh. Alfan Sugiyanto, menegaskan bahwa insiden ini merupakan bentuk kecerobohan fatal yang tidak bisa ditoleransi. Menurutnya, aspek sanitasi dan higienitas seharusnya menjadi pilar utama dalam distribusi program skala nasional ini.
"Kesehatan anak-anak bukan bahan percobaan. Kami sangat menyayangkan adanya temuan makanan tidak layak konsumsi, apalagi sampai ditemukan ulat. Ini mencederai kepercayaan publik terhadap program MBG," tegas Alfan dalam keterangan resminya.
Tiga Tuntutan Utama BNPM Pamekasan
Sebagai bentuk tanggung jawab pengawasan, BNPM DPC Pamekasan secara resmi mengajukan tiga poin tuntutan kepada pihak terkait:
- Investigasi Transparan: Mendesak pengungkapan penyebab kontaminasi makanan secara menyeluruh dari hulu ke hilir.
- Blacklist Vendor Bermasalah: Meminta evaluasi total dan tindakan tegas terhadap vendor penyedia makanan yang terbukti lalai dalam menjaga standar kualitas.
- Pengawasan Berbasis Masyarakat: Mendorong keterbukaan akses bagi masyarakat untuk ikut mengawasi distribusi demi mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Kawal Hingga Tuntas
Alfan menjamin bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam dan akan terus memantau perkembangan kasus ini hingga ada perbaikan sistemik. BNPM berkomitmen memastikan hak anak-anak di Pamekasan untuk mendapatkan asupan nutrisi yang bersih dan sehat terpenuhi tanpa kompromi.
"Kami tidak ingin aksi ini hanya lewat begitu saja tanpa ada perbaikan nyata. BNPM akan terus mengawal hingga anak-anak di Pamekasan benar-benar mendapatkan makanan yang bersih, sehat, dan bergizi tinggi," pungkasnya. (ulum)


Komentar0