PAMEKASAN, JAGATVIRAL
Nyawa warga Dusun Timur, Desa Gro’om, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan, kini terancam setiap hari akibat kondisi infrastruktur listrik yang sangat memprihatinkan. Kabel SR (Service Drop) tegangan tinggi milik jaringan tower terpantau menjuntai rendah hingga hampir menyentuh tanah.
Kondisi lebih parah terlihat di sepanjang jalan desa sejauh 400 meter, di mana kabel-kabel tersebut benar-benar telah menyentuh tanah. Tidak hanya itu, sejumlah tiang listrik di sepanjang jalur tersebut juga dalam posisi miring dan rawan roboh. Karena tak kunjung ada respons perbaikan dari pihak PLN maupun operator tower jaringan, warga terpaksa bergotong-royong memasang bambu secara swadaya sebagai penopang darurat.
Kondisi kritis ini berada tepat di pinggir jalan utama yang menjadi akses harian warga, kendaraan, hingga alat-alat pertanian. Risiko warga tersambar kabel beraliran listrik atau tertimpa tiang yang miring sangat nyata, terutama saat cuaca buruk seperti musim hujan atau angin kencang.
Hoirus, salah satu warga setempat, mengungkapkan rasa cemas sekaligus ketidakberdayaannya menghadapi situasi yang mengancam keselamatan ini.
"Saya tidak tahu apa-apa harus bagaimana, saya hanya memberi tiang pakai bambu biar tidak kena cangkul," ucapnya lirih, menggambarkan betapa pasrahnya masyarakat terhadap ancaman yang mengintai mereka setiap hari.
Warga Kecewa: "Bayar Tidak Boleh Telat, Perbaikan Tidak Ada"
Keluhan mengenai infrastruktur yang rusak ini nyatanya bukan kali pertama disampaikan. Abu, warga Dusun Timur Gro’om lainnya, menyatakan bahwa laporan telah diajukan kepada pihak terkait. Namun sayangnya, laporan tersebut sejauh ini hanya berhenti sebagai urusan administrasi tanpa ada tindak lanjut nyata di lapangan.
Ia pun mempertanyakan standar pelayanan PLN yang dinilai tebang pilih; sangat tegas menuntut haknya kepada konsumen, tetapi abai terhadap kewajiban menjaga keselamatan publik.
"Kalau pas ada korban jiwa, apa PLN mau ganti rugi? Bayar tidak boleh telat, tapi perbaikan tidak ada. Ini repot sekali," tegas Abu dengan nada geram.
Desakan publik kini semakin kuat mengalir agar PLN dan operator tower segera turun tangan ke lokasi. Warga menekankan bahwa tanggung jawab penyedia layanan listrik tidak boleh hanya sebatas melakukan penagihan tagihan, tetapi juga wajib menjamin keselamatan nyawa pengguna dan lingkungan sekitar. Jika kabel tegangan tinggi tersebut sampai putus atau tersentuh, dampaknya bisa fatal—mulai dari korban jiwa hingga korsleting massal.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi maupun jadwal perbaikan konkret dari pihak PLN maupun operator pemilik jaringan tower. Kelalaian dalam merawat infrastruktur vital di wilayah padat penduduk ini dikhawatirkan dapat memicu tragedi kemanusiaan yang seharusmya bisa dicegah sejak dini.
( ULUM )


Komentar0